Cara Budidaya Padi Salibu yang Baik

Cara Budidaya Padi Salibu yang Baik

Padi salibu adalah padi yang ditanam dengan sistem ratun, yaitu memanfaatkan tunggul padi yang tersisa setelah panen untuk menghasilkan tanaman baru. Padi salibu memiliki keunggulan seperti hemat biaya, tenaga, dan waktu, serta dapat meningkatkan produktivitas padi hingga dua atau tiga kali dalam setahun. Namun, padi salibu juga membutuhkan perawatan yang khusus agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Berikut adalah cara budidaya padi salibu yang baik di berbagai jenis lahan pesawahan.

Persiapan Lahan Budidaya Padi Salibu

Persiapan lahan adalah langkah awal yang penting dalam budidaya padi salibu. Persiapan lahan meliputi beberapa hal, antara lain:

Pemilihan lahan

Lahan yang cocok untuk budidaya padi salibu adalah lahan yang berada di daerah yang sudah menjadi langganan penyakit Tungro, busuk batang, dan hawar daun bakteri. Hal ini karena padi salibu memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap penyakit-penyakit tersebut. Selain itu, lahan juga harus memiliki ketersediaan air yang cukup atau dapat dikondisikan dan diatur dengan baik agar tidak terjadi genangan atau kekeringan yang cukup lama.

Pengolahan lahan

Pengolahan lahan untuk budidaya padi salibu tidak perlu dilakukan secara intensif, karena tujuannya hanya untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. Pengolahan lahan dapat dilakukan dengan cara memberikan pupuk organik, seperti pupuk kandang, kompos, atau bokashi, sebanyak 2-5 ton/ha sebelum tanam tanaman utama. Selain itu juga dapat dilakukan pembalikan tanah, penggaruan, atau penaburan kapur untuk menyesuaikan pH tanah.

Pemilihan varietas

Varietas padi yang dapat ditanam dengan sistem salibu adalah varietas yang memiliki sifat-sifat seperti cepat berbunga, cepat matang, tahan terhadap penyakit, dan berproduksi tinggi. Beberapa varietas padi yang sudah dikaji dan ditanam menggunakan sistem salibu, antara lain; varietas Batang Piaman, Cisoka, Inpari 19, Inpari 21, dan Logawa.

Penanaman Padi Salibu

Penanaman padi salibu adalah proses menanam kembali tunggul padi yang tersisa setelah panen tanaman utama. Penanaman padi salibu meliputi beberapa hal, antara lain:

Pemotongan tunggul

Pemotongan tunggul dilakukan dengan cara memotong batang padi yang tersisa setelah panen tanaman utama dengan tinggi kurang lebih 25 cm dari permukaan tanah. Hal ini bertujuan agar padi salibu memperoleh anakan secara maksimal dan tercukupinya sinar matahari untuk berfotosintesis. Pemotongan tunggul dapat dilakukan dengan menggunakan mesin potong rumput, sabit, atau alat lain yang sesuai.

Pemeliharaan tunggul

Pemeliharaan tunggul dilakukan dengan cara membiarkan tunggul padi selama 7-10 hari setelah panen atau menunggu hingga keluar tunas baru. Hal ini bertujuan agar padi salibu dapat membentuk akar dan tunas yang kuat dan sehat. Pemeliharaan tunggul juga meliputi pemberian air, pupuk, dan pengendalian hama dan penyakit sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pemotongan ulang tunggul

Pemotongan ulang tunggul dilakukan dengan cara memotong kembali tunggul padi yang telah keluar tunas baru secara serentak dan seragam hingga tersisa setinggi 3-5 cm dari permukaan tanah. Hal ini bertujuan agar padi salibu dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal. Pemotongan ulang tunggul dapat dilakukan dengan menggunakan mesin potong rumput, sabit, atau alat lain yang sesuai.

Perawatan Padi Salibu

Perawatan padi salibu adalah proses merawat dalam pembudidayaan tanaman padi salibu agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik hingga panen. Perawatan padi salibu meliputi beberapa hal, antara lain:

Penyiraman

Penyiraman dilakukan dengan cara memberikan air secukupnya kepada tanaman padi salibu sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca. Penyiraman dapat dilakukan dengan menggunakan irigasi, pompa air, atau alat lain yang sesuai. Penyiraman harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi genangan atau kekeringan yang dapat merusak tanaman.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara memberikan pupuk anorganik, seperti urea, SP-36, KCl, atau pupuk NPK, kepada tanaman padi salibu sesuai dengan dosis dan waktu yang tepat. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan alat semprot, tabur, atau alat lain yang sesuai. Pemupukan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menyebabkan luka atau pembusukan pada batang atau duri padi salibu.

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara mencegah dan mengatasi serangan hama dan penyakit yang dapat merusak tanaman padi salibu. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan metode mekanis, biologis, kultur teknis, atau kimia, sesuai dengan jenis dan tingkat serangan hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak lingkungan atau mengganggu kesehatan manusia dan hewan.

    Panen Padi Salibu

    Panen padi salibu adalah proses memetik hasil dari budidaya tanaman padi salibu yang telah matang dan siap dipanen. Panen padi salibu meliputi beberapa hal, antara lain:

    Waktu panen

    Waktu panen padi salibu ditentukan berdasarkan umur tanaman, warna gabah, kadar air gabah, dan kondisi cuaca. Umumnya, padi salibu dapat dipanen setelah berumur 90-100 hari setelah pemotongan ulang tunggul. Warna gabah yang siap panen adalah kuning keemasan, kadar air gabah yang siap panen adalah 20-25%, dan kondisi cuaca yang baik untuk panen adalah cerah dan kering.

    Cara panen

    Cara panen padi salibu dapat dilakukan dengan menggunakan alat panen manual, seperti ani-ani, sabit, atau alat lain yang sesuai, atau dengan menggunakan alat panen mekanis, seperti mesin panen padi, combine harvester, atau alat lain yang sesuai. Cara panen padi salibu harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak tanaman atau menghilangkan gabah.

    Pasca panen

    Pasca panen padi salibu adalah proses pengolahan hasil panen padi salibu agar dapat disimpan atau dipasarkan dengan baik. Pasca panen padi salibu meliputi beberapa hal, antara lain: pengeringan, penyimpanan, penggilingan, pengemasan, dan pemasaran. Pasca panen padi salibu harus dilakukan dengan menggunakan alat dan metode yang tepat agar tidak menurunkan kualitas atau kuantitas hasil panen.

    Kesimpulan

    Padi salibu adalah padi yang ditanam dengan sistem ratun, yaitu memanfaatkan tunggul padi yang tersisa setelah panen untuk menghasilkan tanaman baru. Padi salibu memiliki keunggulan seperti hemat biaya, tenaga, dan waktu, serta dapat meningkatkan produktivitas padi hingga dua atau tiga kali dalam setahun. Namun, padi salibu juga membutuhkan perawatan yang khusus agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Cara budidaya padi salibu yang baik meliputi persiapan lahan, penanaman padi salibu, perawatan padi salibu, dan panen padi salibu.

    Tinggalkan komentar